An Empty Heart
Ada yang kosong ketika kulangkahkan kakiku menuju salah satu sudut toko buku itu. Getaran-getaran di hatiku itu mendesak air mataku untuk berkumpul di sudut mataku. Rindu…
Rindu… ketika 24th lebih usiaku, namun betapa jarangnya aku menghadapMu..
ketika kuputuskan hidupku untuk matiku,
ntah, berapa banyak aturanMu yang kulanggar…
ntah, berapa banyak diri ini lupa akan hadirMu..
ntah, berapa banyak diri ini hanyut terbuai rayuan kesenangan sesaat..
Tuhanku,
aku iri ketika suaraku tidak semerdu dan selancar mereka ketika menyenandungkan ayat-ayat cintaMu..
Tuhanku,
aku iri ketika mereka masih bisa bebas bergerak dengan pakaian serba panjang itu..sedang aku selalu mengeluh tiap kali kakiku tersandung karena menginjak kain rokku dan memutuskan untuk tidak mengenakannya untuk aktifitas diluar..
aku iri ketika pengetahuan mereka lebih dalam.. mempelajari tuntunanMu sedari kecil.. sedang aku? bahkan aku tak ingat apa saja yg kulakukan di masa kecilku..
aku iri ketika mereka bisa berkonsentrasi tinggi hanya dengan mendengar ayat2Mu.. sedang aku, ntah berapa jenis alunan music yg kudengarkan yang makin lama makin membuaiku dalam imaginasi tanpa arah..
Tuhanku,,
terimakasih telah menghadirkan mereka dalam hidupku..
orang-orang yg menjadi inspirasiku..
“Di dunia ini masih akan selalu ada hamba-hamba pilihan Allah yang memahami untuk apa mereka diciptakan, mereka menyadari hakikat dunia yang esok atau lusa akan mereka tinggalkan. Mereka berhasil meyakinkan diri bahwa tak ada yang akan mereka bawa ketika masuk kubur nanti kecuali kain kafan, dan bahwa dunia yang tampak menyenangkan ini hanya akan menyisakan hisab yang panjang. Mereka sungguh orang-orang yang pandai, tak mau senang sesaat namun kemudian membawa petaka yang maha berat. Tak menginginkan kebahagiaan sebentar tetapi membawa penyesalan yang berkepanjangan.” -taken from a book in that bookstore-

